Selasa, 30 September 2008

AYAM BAKAR KECAP

Echa
BAHAN:
1 ekor ayam, potong 8 bagian
2 sdm air jeruk nipis dan 2 sdt garam
2 cm lengkuas, memarkan
2 batang serai, memarkan
2 lembar daun jeruk2 cm jahe
2 sdm kecap manis
2 sdm minyak goreng
Haluskan:
3 cabai merah besar
6 cabai rawit merah
8 butir bawang merah
5 siung bawang putih
5 butir kemiri, sangrai
3 cm kunyit
1 sdt garam
Olesan:
2 sdm margarin, lumerkan
7 sdm kecap manis
CARA MEMBUAT:
1. Cuci bersih ayam, lumuri air jeruk nipis dan garam, diamkan sebentar. Cucibersih kembali, tiriskan.
2. Lumuri ayam dengan bumbu halus, tambahkan 2 sdm minyak goreng. Diamkanselama 30 menit.
3. Masak ayam bersama rendamannya, tambahkan lengkuas, serai, daun jeruk, danjahe, masak hingga ayam lunak, angkat.
4. Siapkan bara api, panggang ayam. Selama memanggang olesi dengan campuranmargarin dan kecap manis. Panggang hingga berwarna agak gelap, angkat. Sajikanhangat.
Untuk: 4 orang

Jumat, 19 September 2008

Perjalanan Hidup

Dinamika hidup tak ada bedanya dengan perjalanan hidup itu sendiri, siang menuju malam atau sebaliknya tergantung dari mana kita memulainya. Kedewasaan hidup adalah proses seperti halnya kehadiran kita di bumi ini, dari bayi hingga mati, tergantung keberuntungan takdir kita, apakah melewati kesempurnaan proses tersebut. Kedewasaan diri untuk terus belajar memahami arti hidup dan kehidupan adalah mutlak seperti halnya kita ingin makan makan nangka nggak afdol kalau kita kena getahnya, karena disitulah nikmatnya yang utuh. Sebuah kejayaan atau kemerdekaan akan lebih utuh bila kita melalui proses keterjajahan, juga bila kita ingin menikmati kekayaan dari sisi materi, lebih afdol bila kita juga menikmati kemiskinan, karena kekayaan dan kemiskinan tidak beda seperti siang dan malam, panas dan dingin, laki-laki dan perempuan yang menjadikan dinamika hidup ini lebih berarti.

Selasa, 09 September 2008

DRUPADI

SIAPAKAH yang mendengar suara Drupadi ketika ia diseret pada rambutnya yang panjang ke balairung perjudian itu? Semua. Semua mendengar. Tapi tak ada yang menolongnya.
Yudhistira, suaminya, yang telah kalah dalam pertaruhan, membisu. Juga Arjuna. Juga Nakula dan Sadewa. Hanya Bima yang menggeratakkan gerahamnya dalam rasa marah yang tertahan, hanya Bima yang berbisik, bahwa Yudhistira telah berbuat berlebihan, karena bahkan pelacur pun tak dipertaruhkan dalam pertandingan dadu. ”Ketika kau jadikan kami, adik-adikmu, barang taruhan, aku diam, karena kau, kakak sulung, adalah tetua kami. Kami bahkan rela jadi budak ketika kau kalah. Ketika kau jadikan dirimu sendiri barang pembayaran, kami juga diam, karena kau sendirilah yang menanggungnya. Tapi apa hakmu mengorbankan Drupadi di tempat ini? Apa hakmu, Kakakku?”
Yudhistira membisu. Semua hanya menyimak, juga para pangeran di arena itu, juga Baginda Destarastra yang—dalam gelap matanya yang buta—toh pasti mendengar, dan menyaksikan, malapetaka yang tengah terjadi: para Pandawa telah menerima tantangan berjudi para Kurawa, dan Yudhistira yang lurus hati itu dengan mudah kalah, oleh Sangkuni yang pintar, sampai milik penghabisan. Harta telah ludes. Kerajaan telah terambil. Adik-adiknya telah tersita. Juga dirinya sendiri, yang kini duduk bukan lagi sebagai orang merdeka. Lalu Drupadi, putri dari Kerajaan Pancala yang terhormat itu….
Bersalah apakah wanita ini, kecuali bahwa ia kebetulan dipersunting putra Pandu? Dursasana, yang matanya memerah saga oleh mabuk, oleh kemenangan dan berahi, menyeretnya pada rambut. ”Budak!” seru bangsawan Kurawa itu seraya mencoba merenggutkan kain Drupadi. ”Hayo, layani aku, budak!” Suara tertawa—kasar dan aneh karena gugup—terdengar di antara hadirin. Sangkuni ketawa. Duryudana ketawa. Karna ketawa.
Bima, mendidih sampai ke ruas jantungnya, gemetar, mencoba menahan katup amarah, menyaksikan adegan kemenangan dan penghinaan itu. Api seperti memercik dari wajahnya, dan tinjunya yang kukuh mengencang di ujung lengan, tapi Arjuna menahannya. ”Apa boleh buat, Bima,” kata kesatria tengah Pandawa ini, ”merekalah yang menang, mereka tak menipu, dan Yudhistira tahu itu—perjudian ini juga sejak mula tak ditolaknya.”
”Baiklah, baiklah,” sahut Bima. ”Jangan tegur aku lagi. Tapi dengarlah sumpahku” (dan ia tiba-tiba berdiri, mengeraskan suaranya hingga terdengar ke segala penjuru). ”Hai, kalian, dengarlah sumpahku: kelak, dalam perang yang menentukan antara kita di sini, akan kurobek dada Dursasana dengan kuku-kuku tanganku” (dan suara Bima terdengar seperti raung, muram, menggeletar), ”lalu akan kuminum darahnya, kuminum!” Balairung seolah baru mendengarkan petir menggugur. Beberapa bangsawan Kurawa mendeham mengejek—bukankah ancaman Bima itu omong kosong, karena ia secara sah telah jadi budak—tapi sebagian tiba-tiba merasa ngeri: rasanya memang sesuatu yang tak pantas telah terjadi di tempat terhormat ini. Tapi, siapakah yang akan menolong Drupadi?
Sekali lagi, Dursasana mencoba menanggalkan kain dari tubuh istri Yudhistira itu. Kain terlepas…. Tapi entah mengapa, laki-laki perkasa itu tak kunjung berhasil menelanjangi wanita yang bingung dan pasrah itu. Mungkin ada keajaiban dari langit, mungkin Dursasana terlalu meradang oleh nafsu, mungkin anggur telah memuncak maraknya di kepala: di depannya, ia seakan-akan menghadapi berlapis-lapis kain yang menjaga kulit yang lembut itu. Tiap kali selembar terenggut oleh tangannya yang gemetar, tiap kali pinggul Drupadi seolah tertutup kembali. Dan Dursasana, pada klimaksnya, terkapar.
Ruangan agung itu seolah-olah melepas napas: memang ada sesuatu yang melegakan ketika adegan yang menekan saraf itu berakhir begitu hambar. Tapi tidak: persoalan Drupadi belum selesai. Dan kini wanita itu datang, setengah merangkak, ke hadapan para bangsawan tua yang selama ini menyaksikan semuanya dengan mata sedih tapi mulut tertutup.
”Paduka, berhakkah Yudhistira mempertaruhkan diri hamba, berhakkah dia merasa memiliki diri hamba, ketika ia tidak memiliki lagi diri dan kemerdekaannya?”
Kali ini Resi Bhisma—yang termasyhur arif dan ikhlas itu—menjawab, ”Aku tak tahu, Anakku. Jalan darma sangat subtil. Mana yang benar, mana yang tidak, bahkan orang yang paling bijaksana pun kadang-kadang hanya menduga. Cobalah kau tanya Yudhistira sendiri.”
Tapi tak ada ucapan yang terdengar. Hanya, saat itu, di luar menggores jerit burung, dan suara anjing menyalak, dan langit malam seperti retak. Agaknya sesuatu, yang bukan termasuk dalam ruang judi para raja itu, yang bisa menjawab: tak seorang pun dapat memiliki orang lain, juga dalam kemenangannya yang sah. Berlapis-lapis batas tetap memisahkan antara Drupadi dan penaklukan, antara hamba dan tuan.
~Majalah Tempo Edisi. 10/XXXIIIIII/30 April - 06 Mei 2007~
Catatan: Naskah ini pernah dimuat di Tempo edisi 24 Januari 1987

Senin, 25 Agustus 2008

THE LAWS

Walau kitab hukum dan perundangan dibuat dengan serius, ternyata ada juga yang isinya unik, lucu dan konyol.
THAILAND :
Dilarang keluar rumah tanpa mengenakan celana dalam. (ketauan pake ngga pakenya gimana dong?)
FILIPINA :
Untuk mengurangi tingkat kemacatan lalu lintas kota Manila, ditetapkan bahwa :
Kendaraan bernomor akhir 1 atau 2 tidak diizinkan beroperasi di hari Senin. Sedangkan angka 3 & 4 tidak boleh di hari Selasa, 5 & 6 tidak boleh di hari Rabu, 7 & 8 tidak boleh di hari Kamis, 9 & 0 tidak boleh di hari Jumat. Peraturan ini berlaku sejak pukul 07.00 pagi setiap harinya.
SWISS :
Dilarang berkebun di hari minggu. Alasannya : BERISIK!!!
Walau warga Swiss dilarang menjual, membeli, menyelundupkan, dan memproduksi minuman beralkohol, tapi mereka diizinkan untuk mengkonsumsinya.
SWEDIA :
Dilarang mengecat rumah tanpa ijin dari pemerintah dan harus menggunakan cat yang sudah mendapat sertifikat / ijin dari pemerintah.
KOREA SELATAN :
Para polisi wajib melaporkan jumlah uang suap yang mereka terima dari para pengendara yang mereka tilang.
SINGAPURA :
Dilarang menjual Permen karet di Singapura.
Dilarang berjalan tanpa busana (bugil)
Tidak menyiram setelah buang air di toilet, dapat dikenakan denda.
Jika Anda tertangkap basah meludah sebanyak 3X, Anda diwajibkan membersihkan jalan di hari Minggu dengan menenteng tulisan di dada “I am a Litterer” (Saya seorang Peludah)
Dilarang pipis di dalam lift / elevator. (YA IYAAAAAAALAAAAHHHH)
UNITED KINGDOM :
Dilarang menjual sayuran di hari minggu (kecuali wortel).
Wanita dilarang makan coklat di tempat umum.
Mengambil barang yang dibuang, dapat diancam hukuman Pidana Terorisme.
MEKSIKO :
Wanita yang bekerja di kantor pemerintahan dilarang mengenakan rok mini atau pakaian yang dapat “memprovokasi” rekan kerja selama jam kerja.
Dilarang memaki di tempat umum.
ITALIA :
Pria yang mengenakan rok mini di tempat umum dikenakan hukuman kurungan.(YA IYALAAAAH>>> ANEH SOALNYA....)
Memukul orang dengan kepalan tangan diancam hukum pidana penganiayaan. Tapi menghajar orang dengan meja dan kursi dapat dianggap membela diri.( Gila... trus apa bedanya dong ????? ?)
AUSTRALIA :
Anak-anak berusia di atas 18 tahun (dibawah 21) dilarang membeli rokok, tapi diizinkan merokok.
Dilarang mengangkat telepon pada deringan pertama. (KENAPA DILARANG SIIIH…GA PENTING)
Hanya Petugas Listrik berizin yang boleh mengganti lampu rumah.
Dilarang mengenakan celana Hot Pink di hari minggu. (huahahahaha. ..)
YUNANI :
Dilarang mengenakan topi di stadium olahraga, karena dapat mengganggu pandangan orang lain.
CHINA :
Hanya anak cerdas yang boleh kuliah (dan ini harus bisa dibuktikan dengan ijazah ujian Negara yang diterimanya).
KANADA :
Dilarang mencopot plester luka di tempat umum.
Dilarang menyirami tananam di kebun saat sedang hujan.
Dilarang pipis di semua tempat di Kanada (kecuali toilet rumah Anda sendiri). (trus kalo kebelet gimana?)
Dilarang memanjat pohon.
PERANCIS :
Dilarang berciuman di kereta bawah tanah.
Dilarang menamai babi peliharaan Anda “Napoleon”. (MAKSA DEH ….)
ISRAEL :
Dilarang memelihara babi di tanah Israel. Orang yang melakukannya akan ditembak mati. (sadiiiis ....)
Dilarang ngupil di hari Sabat (Sabtu / Minggu). (rupanya ngupil juga perlu istirahat pas weekend :D)
Dilarang naik sepeda, kecuali punya izin mengendarai sepeda.

Kamis, 31 Juli 2008

Nyari Batik di Pasar Beringhardjo Jogja

Sabtu 26 Juli 2008 kemarin, sehabis beli dinar di Tempat Penukaran uang dalam komplek hotel trus nyari batik di Pasar Beringhardjo Jogja buat kondangan hari minggu ke Diah anaknya pak lik Ijo, pas lagi muter-muter ketemu sama Ricky Jo sekitar jam 14.30 WIB, he.. 3x lagi cari oleh-oleh kayaknya. Hmmm... pengawalnya buanyak banget ada 5 orang.